Selasa, 24 April 2018


FILSAFAT ILMU

Description: D:\Tugas Kuliah\logouvaya1.jpg

PEMBAHASAN TENTANG FILSAFAT ILMU
   NAMA : MARISSA SINAGA
NPM : 17742010017
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS AHMAD YANI
FAKULTAS HUKUM
                                                                         2018                                    





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang    

   Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Filsafat ilmu mempelajari dasar - dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk didalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Disini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan ontologi, epistemologi dan aksiologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti : apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Filsafat ilmu itu sendiri memiliki aliran dan cabang, sehingga ia mencakup banyak hal.


B.    Rumusan Masalah

1.     Apa saja aliran filsafat ?
2.     Berapa banyak cabang filsafat ?
3.     Bagaimana pembahasan dari ontologi, epistimologi dan aksiologi ?


C.     Tujuan
      Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan pembaca bukan hanya membaca, melainkan dapat mencerna, memahami dan dapat menambah pengetahuan seputar filsafat ilmu.

BAB II
PEMBAHASAN
1.     Aliran Dalam Filsafat
   Filsafat ilmu merupakan disiplin ilmu yang membahas mengenai berbagai fenomena yang berkaitan dengan ilmu atau sains. objek materil filsafat ilmu merupakan cakupan dengan semua ilmu, yaitu membahas fakta dan kebenaran disiplin ilmu, serta konfirmasi logika yang digunakan semua disiplin ilmu.
A.    Aliran Rasinalisme
   Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan menguji pengetahuan. Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir, yaitu dengan menggunakan kaidah _ kaidah logis atau kaidah - kaidah logika. Descartes, Spinoza dan Leibnis adalah tokoh - tokoh besar dalam aliran rasionalisme.
   Rasionalisme terbagi menjadi dua macam, yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama lawan rasionalisma adalah autoritas, sedangkan dalam bidang filsafat lawan rasionalisme adalah empirisme. Rasionalisme dalam bidang agama biasanya mengkritik mengenai ajaran agama, rasionalisme dalam nidang filsafat berguna sebagai teori pengetahuan rasionalisme berpendapat bahwa sebagian dan bagian penting pengetahuan dating dari penemu akal, seperti pemahanan mengenai logika matematika.
B.    Aliran Idealisme
   Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), Ia adalah murid sokrates. Aliran filsafat  merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak diantara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh Panca indra. Karena pandangannya yang idealis itulah idealism e sering dianggap sebagai lawan dari aliran realisme.
   Aliran filsafat Plato dapat dilihat sebagai suatu reaksi terhadap kondisi perubahan terus-menerus yang telah meruntuhkan budaya Athena lama. Ia merumuskan kebenaran sebagai sesuatu yang sempurna dan abadi (eternal). Dan sudah terukti, bahwa dunia eksistensi keseharian senantiasa mengalami perubahan. Dengan demikian kebenaran tidak bisa ditemukan dalam dunia materi yang tidak sempurna dan berubah. Plato percaya bahwa disana terdapat kebenaran yang universal dan dapat disetujui oleh semua orang. Contohnya dapat ditemukan pada matematika, bahwa  6+6= 12 adalah selalu benar (merupakan kebenaran apriori), contoh tersebut sekarang benar dan bahkan di waktu yang akan datang pasti akan tetap benar.
C.     Aliran Empirisme
   Empirisisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peranan akal. Dua ciri pokok empirisisme Teori makna yang dinyatakan sebagai asal usul, idea atau konsep. Yang  pada Abad Pertengahan dirumuskan sebagai Nihil est in intellectu quod non prius fuerit in sensu yang artinya tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman.
   Pernyataan tersebut merupakan tesis Locke yang terdapat dalam bukunya , An Essay Concerning Human Understanding, yang dikeluarkan tatkala ia menentang ajaran idea bawaan (innate idea) pada orang - orang rasionalis. Menurut Locke,; jiwa (mind) itu tatkala orang dilahirkan, keadaannya kosong, laksana kertas putih (tabula rasa) yang belum ada tulisan di atasnya dan setiap idea yang diperolehnya mestilah datang melalui pengalaman inderawi atau pengetahuan itu datang dari observasi yang kita lakukan terhadap jiwa (mind) kita sendiri dengan alat yang oleh Locke disebut innersense (pengindera dalam).
D.    Aliran Pragtisme
Pragtisme berasal dari kata progma yang berarti manfaat. Pragtisme adalah sikap, metode dan filsafat yang memahami akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai kebenaran. Atau, seperti yang dikatakan William James, suatu sikap memandang jauh terhadap benda - benda pertama, prinsip - prinsip dan kategori - kategori yang dianggap sangat penting, serta melihat ke depan kepada benda - benda yang terakhir, buah - buah dan fakta - fakta.
   Pragtisme merupakan filsafat khas Amerika, karena aliran ini muncul dari kehidupan dan pengalaman Amerika. Namun demikian, dalam bentuk yang praktis (etika) paham yang sejalan telah muncul di Yunani dalam bentuk Utilitarisme, yaitu paham bahwa ukuran baik dan buruk ditentukan oleh ada tidaknya manfaat dari perbuatan tersebut.
E.     Aliran Eksistensialisme
   Definisi eksistensialisme tidak mudah dirumuskan, bahkan kaum eksistensialis sendiri tidak sepakat mengenai rumusan apa sebenarnya eksistensialisme itu. Sekalipun demikian, ada sesuatu yang disepakati, baik filsafat eksistensi maupun filsafat eksistensialisme sama-sama menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral Namun tidak ada salahnya, untuk memberikan sedikit gambaran tentang eksistensialisme ini, berikut akan dipaparkan pengertiannya.
   Kata dasar eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari bahasa Latin ex yang berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Artinya dengan keluar dari dirinya sendiri, manusia sadar tentang dirinya sendiri; ia berdiri sebagai aku atau pribadi. Pikiran semacam ini dalam bahasa Jerman disebut dasein (da artinya di sana, sein artinya berada).
   Dari uraian di atas dapat diambil pengertian bahwa cara berada manusia itu menunjukkan bahwa ia merupakan kesatuan dengan alam jasmani, ia satu susunan dengan alam jasmani, manusia selalu mengkonstruksi dirinya, jadi ia tidak pernah selesai. Dengan demikian, manusia selalu dalam keadaan membelum; ia selalu sedang ini atau sedang itu.
F.     Aliran Monisme
   Monisme (monism) berasal dari kata Yunani yaitu monos (sendiri, tunggal) secara istilah monisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa unsur pokok dari segala sesuatu adalah unsur yang bersifat tunggal/ Esa. Unsur dasariah ini bisa berupa materi, pikiran, Allah, energi dll. Bagi kaum materialis unsur itu adalah materi, sedang bagi kaum idealis unsur itu roh atau ide. Orang yang mula-mula menggunakan terminologi monisme adalah Christian Wolff (1679-1754). Dalam aliran ini tidak dibedakan antara pikiran dan zat. Mereka hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai subtansi yang sama. Ibarat zat dan energi dalam teori relativitas Enstein, energi hanya merupakan bentuk lain dari zat.Atau dengan kata lain bahwa aliran monisme menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan yang fundamental.
G.    Aliran  Dualisme
   Dualisme (dualism) berasal dari kata Latin yaitu duo (dua). Dualisme adalah ajaran yang menyatakan realitas itu terdiri dari dua substansi yang berlainan dan bertolak belakang. Masing-masing substansi bersifat unik dan tidak dapat direduksi, misalnya substansi adi kodrati dengan kodrati, Tuhan dengan alam semesta, roh dengan materi, jiwa dengan badan dll. Ada pula yang mengatakan bahwa dualisme adalah ajaran yang menggabungkan antara idealisme dan materialisme, dengan mengatakan bahwa alam wujud ini terdiri dari dua hakikat sebagai sumber yaitu hakikat materi dan ruhani.
   Dapat dikatakan pula bahwa dualisme adalah paham yang memiliki ajaran bahwa segala sesuatu yang ada, bersumber dari dua hakikat atau substansi yang berdiri sendiri-sendiri. Orang yang pertama kali menggunakan konsep dualisme adalah Thomas Hyde (1700), yang mengungkapkan bahwa antara zat dan kesadaran (pikiran) yang berbeda secara subtantif. Jadi adanya segala sesuatu terdiri dari dua hal yaitu zat dan pikiran. Yang termasuk dalam aliran ini adalah Plato (427-347 SM), yang mengatakan bahwa dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan dari dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanya tiruan dari yang asli yaitu idea. Karenanya maka dunia ini berubah-ubah dan bermacam-macam sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea sana (dunia idea).

H.   Aliran Pluralisme
   (Pluralism) berasal dari kata Pluralis (jamak). Aliran ini menyatakan bahwa realitas tidak terdiri dari satu substansi atau dua substansi tetapi banyak substansi yang bersifat independen satu sama lain. Sebagai konsekuensinya alam semesta pada dasarnya tidak memiliki kesatuan, kontinuitas, harmonis dan tatanan yang koheren, rasional, fundamental.
   Didalamnya hanya terdapat pelbagi jenis tingkatan dan dimensi yang tidak dapat diredusir. Pandangan demikian mencangkup puluhan teori, beberapa diantaranya teori para filosuf yunani kuno yang menganggap kenyataan terdiri dari udara, tanah, api dan air. Dari pemahaman di atas dapat dikemukakan bahwa aliran ini tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi melainkan banyak substansi, karena menurutnya manusia tidak hanya terdiri dari jasmani dan rohani tetapi juga tersusun dari api, tanah dan udara yang merupakan unsur substansial dari segala wujud.

2.     Cabang dari Filsafat Ilmu
Cabang - cabang filsafat menurut pendapat dari beberapa ahli, yaitu :
o   Epistemologi (teori pengetahuan)
o   Etika ( Filsafat Moral )
o   Logika
o   Metodologi
o   Biologi
o   Psikologi
o   Antropologi
o   Sosiologi
o   Estetika ( Fisafat Seni )
o   Metafisika
o   Politik ( Filsafat Pemerintahan )
o   Filsafat Agama
o   Filsafat Ilmu
o   Filsafat Pendidikan
o   Filsafat Hukum
o   Filsafat Sejarah serta Filsafat Matematika
3.     Pembahasan Mengenai Ontologi, Epistimologoi dan Aksiologi
a.     Ontologi
   Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi ini membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
   Hakikat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang :
  Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
• Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
   Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
Istilah - istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah :
Yang - ada (being)                           Substansi (substance)
Kenyataan/realitas (reality)       Perubahan (change)
Eksistensi (existence)                    Tunggal (one)
Esensi (essence)                              Jamak (many)             
    Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagain

b.     Epistimologi
   Epistemologi (//; dari bahasa Yunani ἐπιστήμη, epistēmē, artinya "pengetahuan", dan λόγος, logos, artinya "diskursus") adalah cabang dari filsafat yang berkaitan dengan teori pengetahuan.
   Epistemologi mempelajari tentang hakikat dari pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas keyakinan. Banyak perdebatan dalam epistemologi berpusat pada empat bidang: (1) analisis filsafat terkait hakikat dari pengetahuan dan bagaimana hal ini berkaitan dengan konsep-konsep seperti kebenaran, keyakinan, dan justifikasi,(2) berbagai masalah skeptisisme, (3) sumber-sumber dan ruang lingkup pengetahuan dan justifikasi atas keyakinan, dan (4) kriteria bagi pengetahuan dan justifikasi. Epistemologi membahas pertanyaan-pertanyaan seperti "Apa yang membuat kebenaran yang terjustifikasi dapat dijustifikasi?", Apa artinya apabila mengatakan bahwa seseorang mengetahui sesuatu? dan pertanyaan yang mendasar, Bagaimana kita tahu bahwa kita tahu?
   Istilah 'Epistemologi' pertama kali digunakan oleh filsuf Skotlandia James Frederick Ferrier pada tahun 1854. Namun, menurut Brett Warren, Raja James VI dari Skotlandia sebelumnya telah mempergunakan konsep filosofis ini dan menggunakannya sebagai personifikasi, dengan istilah Epistemon, pada tahun 1591.

c.      Aksiologi
   Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.[1] Jadi yang ingin di capai oleh aksiologi adalah hakikat dan manfaat yang terdapat dalam suatu pengetahuan.         Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai. Pertanyaan di wilayah ini menyangkut, antara lain:
Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan?
Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?
Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional? (filsafat etika).
Dalam aksiologi, ada dua komponen mendasar yakni Etika (moralitas) dan Estetika (keindahan).












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
   Filsafat ilmu merupakan disiplin ilmu yang membahas mengenai berbagai fenomena yang berkaitan dengan ilmu atau sains. objek materiil filsafat ilmu merupakan cakupan dengan semua ilmu, yaitu membahas fakta dan kebenaran disiplin ilmu., serta konfirmasi logika yang digunakan semua disiplin ilmu. Di samping itu pula, obyek materiil berbagai ilmu juga menelaah objek spesifik lain. Objek formil filsafat ilmu adalah telaah filsafati tentang konfirmasi dan logika.
   Aliran Filsafat diantaranya adalah Aliran Idealisme, Aliran Empirisme, Aliran Rasionalisme. Aliran Rasionalisme adalah aliran yang berdasarkan pemikiran rasional.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Daftar Pustaka :


Hi! How are you doing?  I hope you are fine.  It's been a long time since we're not talked. We used to spend our midnight time toget...