FILSAFAT
ILMU

PEMBAHASAN
TENTANG FILSAFAT ILMU
NAMA : MARISSA SINAGA
NPM :
17742010017
KEMENTRIAN
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS
AHMAD YANI
FAKULTAS
HUKUM
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat
yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Filsafat ilmu
mempelajari dasar - dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang
termasuk didalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Disini, filsafat
ilmu sangat berkaitan erat dengan ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti : apa
dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah,
bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan,
memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan
validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah;
macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta
implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu
pengetahuan itu sendiri. Filsafat ilmu itu sendiri memiliki aliran dan cabang,
sehingga ia mencakup banyak hal.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa saja
aliran filsafat ?
2. Berapa
banyak cabang filsafat ?
3. Bagaimana pembahasan dari ontologi,
epistimologi dan aksiologi ?
C.
Tujuan
Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan
pembaca bukan hanya membaca, melainkan dapat mencerna, memahami dan dapat
menambah pengetahuan seputar filsafat ilmu.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Aliran Dalam
Filsafat
Filsafat ilmu merupakan disiplin ilmu yang
membahas mengenai berbagai fenomena yang berkaitan dengan ilmu atau sains.
objek materil filsafat ilmu merupakan cakupan dengan semua ilmu, yaitu membahas
fakta dan kebenaran disiplin ilmu, serta konfirmasi logika yang digunakan semua
disiplin ilmu.
A.
Aliran
Rasinalisme
Rasionalisme adalah paham filsafat yang
mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh
pengetahuan dan menguji pengetahuan. Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan
diperoleh dengan cara berpikir, yaitu dengan menggunakan kaidah _ kaidah logis
atau kaidah - kaidah logika. Descartes, Spinoza dan Leibnis adalah tokoh - tokoh
besar dalam aliran rasionalisme.
Rasionalisme terbagi menjadi dua macam,
yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama lawan
rasionalisma adalah autoritas, sedangkan dalam bidang filsafat lawan
rasionalisme adalah empirisme. Rasionalisme dalam bidang agama biasanya
mengkritik mengenai ajaran agama, rasionalisme dalam nidang filsafat berguna
sebagai teori pengetahuan rasionalisme berpendapat bahwa sebagian dan bagian
penting pengetahuan dating dari penemu akal, seperti pemahanan mengenai logika
matematika.
B.
Aliran
Idealisme
Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374
SM), Ia adalah murid sokrates. Aliran filsafat
merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya,
cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak
diantara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh Panca
indra. Karena pandangannya yang idealis itulah idealism e sering dianggap
sebagai lawan dari aliran realisme.
Aliran filsafat Plato dapat dilihat sebagai
suatu reaksi terhadap kondisi perubahan terus-menerus yang telah meruntuhkan
budaya Athena lama. Ia merumuskan kebenaran sebagai sesuatu yang sempurna dan
abadi (eternal). Dan sudah terukti, bahwa dunia eksistensi keseharian
senantiasa mengalami perubahan. Dengan demikian kebenaran tidak bisa ditemukan
dalam dunia materi yang tidak sempurna dan berubah. Plato percaya bahwa disana
terdapat kebenaran yang universal dan dapat disetujui oleh semua orang.
Contohnya dapat ditemukan pada matematika, bahwa 6+6= 12 adalah selalu benar (merupakan
kebenaran apriori), contoh tersebut sekarang benar dan bahkan di waktu yang
akan datang pasti akan tetap benar.
C.
Aliran
Empirisme
Empirisisme adalah suatu doktrin filsafat
yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta
pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peranan akal. Dua ciri pokok
empirisisme Teori makna yang dinyatakan sebagai asal usul, idea atau konsep.
Yang pada Abad Pertengahan dirumuskan
sebagai Nihil est in intellectu quod non prius fuerit in sensu yang artinya
tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman.
Pernyataan tersebut merupakan tesis Locke
yang terdapat dalam bukunya , An Essay Concerning Human Understanding, yang
dikeluarkan tatkala ia menentang ajaran idea bawaan (innate idea) pada orang - orang
rasionalis. Menurut Locke,; jiwa (mind) itu tatkala orang dilahirkan,
keadaannya kosong, laksana kertas putih (tabula rasa) yang belum ada tulisan di
atasnya dan setiap idea yang diperolehnya mestilah datang melalui pengalaman
inderawi atau pengetahuan itu datang dari observasi yang kita lakukan terhadap
jiwa (mind) kita sendiri dengan alat yang oleh Locke disebut innersense
(pengindera dalam).
D.
Aliran
Pragtisme
Pragtisme berasal
dari kata progma yang berarti manfaat. Pragtisme adalah sikap, metode dan
filsafat yang memahami akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai
ukuran untuk menetapkan nilai kebenaran. Atau, seperti yang dikatakan William
James, suatu sikap memandang jauh terhadap benda - benda pertama, prinsip - prinsip
dan kategori - kategori yang dianggap sangat penting, serta melihat ke depan
kepada benda - benda yang terakhir, buah - buah dan fakta - fakta.
Pragtisme merupakan filsafat khas Amerika,
karena aliran ini muncul dari kehidupan dan pengalaman Amerika. Namun demikian,
dalam bentuk yang praktis (etika) paham yang sejalan telah muncul di Yunani
dalam bentuk Utilitarisme, yaitu paham bahwa ukuran baik dan buruk ditentukan
oleh ada tidaknya manfaat dari perbuatan tersebut.
E.
Aliran
Eksistensialisme
Definisi eksistensialisme tidak mudah
dirumuskan, bahkan kaum eksistensialis sendiri tidak sepakat mengenai rumusan
apa sebenarnya eksistensialisme itu. Sekalipun demikian, ada sesuatu yang
disepakati, baik filsafat eksistensi maupun filsafat eksistensialisme sama-sama
menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral Namun tidak ada salahnya,
untuk memberikan sedikit gambaran tentang eksistensialisme ini, berikut akan
dipaparkan pengertiannya.
Kata dasar eksistensi (existency) adalah
exist yang berasal dari bahasa Latin ex yang berarti keluar dan sistere yang
berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri
sendiri. Artinya dengan keluar dari dirinya sendiri, manusia sadar tentang
dirinya sendiri; ia berdiri sebagai aku atau pribadi. Pikiran semacam ini dalam
bahasa Jerman disebut dasein (da artinya di sana, sein artinya berada).
Dari uraian di atas dapat diambil pengertian
bahwa cara berada manusia itu menunjukkan bahwa ia merupakan kesatuan dengan
alam jasmani, ia satu susunan dengan alam jasmani, manusia selalu
mengkonstruksi dirinya, jadi ia tidak pernah selesai. Dengan demikian, manusia
selalu dalam keadaan membelum; ia selalu sedang ini atau sedang itu.
F.
Aliran
Monisme
Monisme (monism) berasal dari kata Yunani
yaitu monos (sendiri, tunggal) secara istilah monisme adalah suatu paham yang
berpendapat bahwa unsur pokok dari segala sesuatu adalah unsur yang bersifat
tunggal/ Esa. Unsur dasariah ini bisa berupa materi, pikiran, Allah, energi
dll. Bagi kaum materialis unsur itu adalah materi, sedang bagi kaum idealis
unsur itu roh atau ide. Orang yang mula-mula menggunakan terminologi monisme
adalah Christian Wolff (1679-1754). Dalam aliran ini tidak dibedakan antara
pikiran dan zat. Mereka hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan
namun mempunyai subtansi yang sama. Ibarat zat dan energi dalam teori
relativitas Enstein, energi hanya merupakan bentuk lain dari zat.Atau dengan
kata lain bahwa aliran monisme menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan yang
fundamental.
G.
Aliran Dualisme
Dualisme
(dualism) berasal dari kata Latin yaitu duo (dua). Dualisme adalah ajaran yang
menyatakan realitas itu terdiri dari dua substansi yang berlainan dan bertolak
belakang. Masing-masing substansi bersifat unik dan tidak dapat direduksi, misalnya
substansi adi kodrati dengan kodrati, Tuhan dengan alam semesta, roh dengan
materi, jiwa dengan badan dll. Ada pula yang mengatakan bahwa dualisme adalah
ajaran yang menggabungkan antara idealisme dan materialisme, dengan mengatakan
bahwa alam wujud ini terdiri dari dua hakikat sebagai sumber yaitu hakikat
materi dan ruhani.
Dapat dikatakan pula bahwa dualisme adalah
paham yang memiliki ajaran bahwa segala sesuatu yang ada, bersumber dari dua
hakikat atau substansi yang berdiri sendiri-sendiri. Orang yang pertama kali
menggunakan konsep dualisme adalah Thomas Hyde (1700), yang mengungkapkan bahwa
antara zat dan kesadaran (pikiran) yang berbeda secara subtantif. Jadi adanya
segala sesuatu terdiri dari dua hal yaitu zat dan pikiran. Yang termasuk dalam
aliran ini adalah Plato (427-347 SM), yang mengatakan bahwa dunia lahir adalah
dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah
bayangan dari dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanya tiruan dari yang
asli yaitu idea. Karenanya maka dunia ini berubah-ubah dan bermacam-macam sebab
hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi
dunia pengalaman. Barang-barang yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang
ideal di dunia idea sana (dunia idea).
H.
Aliran
Pluralisme
(Pluralism) berasal dari kata Pluralis
(jamak). Aliran ini menyatakan bahwa realitas tidak terdiri dari satu substansi
atau dua substansi tetapi banyak substansi yang bersifat independen satu sama
lain. Sebagai konsekuensinya alam semesta pada dasarnya tidak memiliki
kesatuan, kontinuitas, harmonis dan tatanan yang koheren, rasional,
fundamental.
Didalamnya hanya terdapat pelbagi jenis
tingkatan dan dimensi yang tidak dapat diredusir. Pandangan demikian mencangkup
puluhan teori, beberapa diantaranya teori para filosuf yunani kuno yang
menganggap kenyataan terdiri dari udara, tanah, api dan air. Dari pemahaman di
atas dapat dikemukakan bahwa aliran ini tidak mengakui adanya satu substansi
atau dua substansi melainkan banyak substansi, karena menurutnya manusia tidak
hanya terdiri dari jasmani dan rohani tetapi juga tersusun dari api, tanah dan
udara yang merupakan unsur substansial dari segala wujud.
2.
Cabang dari
Filsafat Ilmu
Cabang -
cabang filsafat menurut pendapat dari beberapa ahli, yaitu :
o
Epistemologi (teori pengetahuan)
o
Etika ( Filsafat Moral )
o
Logika
o
Metodologi
o
Biologi
o
Psikologi
o
Antropologi
o
Sosiologi
o
Estetika ( Fisafat Seni )
o
Metafisika
o
Politik ( Filsafat Pemerintahan )
o
Filsafat Agama
o
Filsafat Ilmu
o
Filsafat Pendidikan
o
Filsafat Hukum
o
Filsafat Sejarah serta Filsafat Matematika
3.
Pembahasan
Mengenai Ontologi, Epistimologoi dan Aksiologi
a.
Ontologi
Ontologi merupakan salah satu kajian
filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi ini membahas
keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan
yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada
masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan.
Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air
merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun
yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu
berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap
ada berdiri sendiri).
Hakikat kenyataan atau realitas memang bisa
didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang :
• Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan
apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
• Kualitatif, yaitu dengan
mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu,
seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau
harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan
sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
Beberapa
aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
Istilah - istilah
terpenting yang terkait dengan ontologi adalah :
Yang - ada
(being) Substansi (substance)
Kenyataan/realitas
(reality) Perubahan (change)
Eksistensi
(existence) Tunggal (one)
Esensi (essence) Jamak (many)
Ontologi
ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang
dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu empiris (misalnya antropologi,
sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagain
b.
Epistimologi
Epistemologi (//; dari bahasa Yunani ἐπιστήμη,
epistēmē, artinya "pengetahuan", dan λόγος, logos, artinya
"diskursus") adalah cabang dari filsafat yang berkaitan dengan teori
pengetahuan.
Epistemologi mempelajari tentang hakikat
dari pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas keyakinan. Banyak perdebatan
dalam epistemologi berpusat pada empat bidang: (1) analisis filsafat terkait
hakikat dari pengetahuan dan bagaimana hal ini berkaitan dengan konsep-konsep
seperti kebenaran, keyakinan, dan justifikasi,(2) berbagai masalah skeptisisme,
(3) sumber-sumber dan ruang lingkup pengetahuan dan justifikasi atas keyakinan,
dan (4) kriteria bagi pengetahuan dan justifikasi. Epistemologi membahas
pertanyaan-pertanyaan seperti "Apa yang membuat kebenaran yang terjustifikasi
dapat dijustifikasi?", Apa artinya apabila mengatakan bahwa seseorang
mengetahui sesuatu? dan pertanyaan yang mendasar, Bagaimana kita tahu bahwa
kita tahu?
Istilah 'Epistemologi' pertama kali
digunakan oleh filsuf Skotlandia James Frederick Ferrier pada tahun 1854.
Namun, menurut Brett Warren, Raja James VI dari Skotlandia sebelumnya telah
mempergunakan konsep filosofis ini dan menggunakannya sebagai personifikasi,
dengan istilah Epistemon, pada tahun 1591.
c.
Aksiologi
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu
yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.[1] Jadi yang ingin
di capai oleh aksiologi adalah hakikat dan manfaat yang terdapat dalam suatu
pengetahuan. Aksiologi berasal
dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang
nilai. Pertanyaan di wilayah ini menyangkut, antara lain:
Untuk apa
pengetahuan ilmu itu digunakan?
Bagaimana
kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?
Bagaimana
penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
Bagaimana
kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional?
(filsafat etika).
Dalam
aksiologi, ada dua komponen mendasar yakni Etika (moralitas) dan Estetika
(keindahan).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Filsafat
ilmu merupakan disiplin ilmu yang membahas mengenai berbagai fenomena yang
berkaitan dengan ilmu atau sains. objek materiil filsafat ilmu merupakan
cakupan dengan semua ilmu, yaitu membahas fakta dan kebenaran disiplin ilmu.,
serta konfirmasi logika yang digunakan semua disiplin ilmu. Di samping itu
pula, obyek materiil berbagai ilmu juga menelaah objek spesifik lain. Objek
formil filsafat ilmu adalah telaah filsafati tentang konfirmasi dan logika.
Aliran Filsafat diantaranya adalah Aliran
Idealisme, Aliran Empirisme, Aliran Rasionalisme. Aliran Rasionalisme adalah
aliran yang berdasarkan pemikiran rasional.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Daftar Pustaka :